Senin, 26 April 2010

Surga di Laut Jawa itu bernama Karimunjawa

I love the blue of Indonesia, ungkapan yang sangat cocok untuk negeri kita ini “Indonesia”, menyimpan kekayaan alam laut yang menakjubkan. Bunaken, Raja Ampat, Bali dan Lombok adalah tempat – tempat indah yang sering kita dengar sebagai surganya pantai di Indonesia.

Laut Jawa, dengan desiran gelombang laut yang tenang dan nampak bersih memberikan nuansa tersendiri bagi pecinta alam dengan paduan keindahan alam bawah laut dan habitat serta alam di Laut Jawa tersebut, Karimunjawa!!! itulah surga yang berada di Laut Jawa.

Photobucket

Berada di sisi utara kota Jepara dan dapat ditempuh melalui jalur udara ataupun laut. Untuk bisa menikmati Karimunjawa butuh waktu beberapa jam perjalanan dari Jepara / Semarang menuju Karimunjawa.

Perjalanan yang sangat panjang dan lama terbayar sudah ketika kapal sudah mulai memasuki dermaga Karimunjawa, laut yang tenang dengan perairan yang bersih serta udara di langit yang cerah menjadi obat pembius kebosanan selama di perjalanan. Decak kagum akan keindahan pulau Karimunjawa nampak tersirat dari muka teman – teman yang melakukan perjalanan jauh dari Jogja ini.

Photobucket

Sambutan Oleh Pak Solikul

Menginjakkan kaki di Karimunjawa dan memasuki pintu gerbang dermaga kita di sambut oleh Pak Solikul, di tempat Pak Solikul inilah kita akan menginap dan mencari informasi yang lebih luas mengenai Pulau Karimunjawa. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk dapat samapi ke rumah Pak Solikul, karena memang rumah Pak Solikul jauh dari pusat kota Karimunjawa. Sesampai di rumah Pak Solikul kami mendapatkan sapaan yang hangat dari seluruh anggota keluarga Pak Solikul, sajian sore berupa teh panas dan pisang goreng membuat lapar dahaga menjadi berkurang. Berbagai penjelasan diberikan Pak Solikul kepada kami mengenai Karimunjawa, mulai dari habitat yang ada sampai kepada tempat – tempat yang patut di kunjungi.

Sore itu tidak ada istilah istirahat dalam perjalanan kali ini, menikmati sunset di Karimunjawa adalah sajian pertama ketika kita mulai menikmati Pulau ini ( sekedar gambaran saja, belakang rumah Pak Solikul adalah pantai ). Menggunakan kapal milik nelayan, kita di antarkan untuk bisa menikmati tenggelamnya sinar mentari di tengah laut. Sungguh pemandangan yang bisa di bilang romantis ketika sedikit demi sedikit bulatan merah tersebut mulai hilang di telan air laut apalagi setelah itu kita di antarkan untuk menikmati segarnya mandi air laut di bawah sinar sunset karimunjawa. Wow… sungguh moment yang luar biasa untuk hari pertama di Karimunjawa.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Selamat Pagi Karimunjawa

Pagi itu cuaca sangat tidak bersahabat, mendung yang datang tiba – tiba membuat rencana pagi itu sedikit berantakan, hujan tiba – tiba turun dengan derasnya ketika kita berjalan ke Pantai. Namun situasi tersebut tidak membuat mood ini langsung hilang, tidak ingin menyia - nyiakan waktu di Karimunjawa maka kita melakukan perjalanan ke arah Utara. Di sana kita mencicipi indahnya dermaga lama di Pulau Karimunjawa serta menikmati pesisir pantai itu, sore harinya dengan menggunakan kapal nelayan kita diantarkan untuk menuju ke Pondok di tengah laut. Di Pondok tersebut kita dapat menikmati suasana perairan Karimunjawa yang bersih dan indah, tidak hanya itu juga kita juga dapat berenang di perairan tersebut. Sensasi berenang yang cukup menyenangkan ketika berenang di tengah laut dengan kedalaman kurang dari satu meter namun ada juga yang lebih dalam dan lebih dalam.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket


Eksotisme Kepulauan Karimunjawa

Pagi itu tidak seperti biasanya, kali ini kita bangun subuh untuk sekedar menikmati sunrise di dermaga Karimunjawa. Setelah menikmati sunrise pagi itu, kembali kita menikmati santapan makan pagi di rumah Pak Solikul, seperti biasanya sea food selalu menghiasi setiap hidangan santap menyantap kala kita di Karimunjawa.

Seorang bapak telah memanggil dari luar rumah untuk segera bersiap – siap karena kita akan segera di antarkan berpetualang di perairan Karimunjawa. Menggunakan perahu nelayan dengan derasnya air laut di pagi itu menjadi sebuah hiburan tersendiri, cipratan air laut selalu menghinggapi bagi mereka yang duduk di bagian depan perahu.

Pulau Cemara Besar adalah tujuan utama kali ini, perairan yang jernih dan menggiurkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pulau ini. Tidak ada jalan yang melalui daratan di pulau ini, untuk bisa menikmati pulau ini, kita harus berjalan melalui pesisir pulau ini, tentunya melewati perairan di pesisir pulau ini. Pasir putih, air yang jernih dan pemandangan pulau di depan mata menjadi suguhan cantik dari pulau Cemara Besar. Mandi di bawah teriknya sinar matahari dengan jernihnya air laut membuat kita lupa akan waktu dan lupa bahwa sedikit demi sedikit kulit kita mulai terbakar sinar matahari. Tapi inilah Karimunjawa “di Karimunjawa harus menjadi hitam” itulah kata Pak Solikul di tengah canda – candanya bersama kita di hari pertama.

Matahari sudah berada tepat di atas kepala, sebuah pertanda bahwa hari sudah semakin siang, kami bergegas menuju kapal. Sesampai di kapal kita segera melanjutkan perjalanan menyusuri lautan Karimunjawa menuju Pulau Menjangan. Kerasnya angin waktu itu begitu terasa, arus yang deras dan teriknya sinar matahari menjadi teman perjalanan kami yang berada di kapal tersebut. Pulau Menjangan mempunyai daya tarik sebagai tempat penangkaran Ikan Hiu, di tempat ini kita bisa berenang bersama Hiu. Kita tidak menyia – nyiakan kesempatan untuk berenang dengan Ikan Buas tersebut, walaupun takut tapi kita harus melakukannya, lumayan buat oleh – oleh dari Karimunjawa.

Setelah puas bermain – main dengan Ikan Hiu perjalanan kita lanjutkan untuk melihat sisi Karimunjawa yang lain. Kali ini kita menghabiskan sore hari untuk menikmati sun set sambil menikmati jernihnya perairan Karimunjawa di bawah sinar matahari.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Itulah sore terakhir kita berada di Karimunjawa, aktivitas padat merayap di Jogja telah menginginkan kita untuk mensudahi perjalanan di Karimunjawa. Karimunjawa, sebuah surga di Lautan Jawa dengan segudang keindahan alamnya, tidak akan pernah terlupakan dan akan selalu kembali lagi ke Surga Laut Jawa itu.

Photobucket

Jumat, 12 Maret 2010

Merindukan Bromo

Photobucket

Dingin menusuk kulit dengan kisaran suhu antara 6o sampai dengan 10o membuat tubuh ini menggigil walaupun sudah berlapiskan jaket tebal di tubuh ini. Hamparan putih kabut yang menyambut pagi dingin kala itu membuat tubuh ini semakin mengigil, namun itu bukanlah sebuah penderitaan melainkan itulah sensasi yang kami rasakan. Menanti sunrise di pananjakan Bromo sejak subuh hingga mentari mulai menunjukkan jati dirinya adalah tujuan datang ke sini. Sungguh terpesona akan alam Indonesia, hamparan biru dan deretan gunung (batok, bromo, semeru) berdiri gagah di lembah lautan pasir Bromo.


Photobucket

Kemegahan ini semakin bertambah takkala melihat Semeru memuntahkan warna putih yang keluar dari ujungnya. Petani, pengunjung ataupun penduduk sekitar yang sesekali mengepalkan tangannya dan mengeluarkan asap dari mulut mereka menambah suasana menjadi lebih hidup dengan suasana kesejukan alam Bromo yang begitu dingin.

Photobucket

Tak terdengar suara bising perkotaan yang ada hanyalah suara alam dan raungan hard top yang selalu melintasi kawasan ini. Sajian makanan yang murah dan nikmat adalah santapan kala itu, mulut meringis ketika guyuran air melewati kepala kita ataupun tubuh kita.

Photobucket

Tapi.... itulah Bromo... selalu membuat jiwa raga ini ingin selalu kembali ke sana...

Senin, 21 Desember 2009

Sumbing di Penghujung Tahun 2009

Photobucket

Sumbing, merupakan salah satu Gunung Berapi yang masih aktif di Pulau Jawa, Gunung Sumbing berlokasi di kawasan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.371 m dari permukaan air laut.

Bagi beberapa atau mungkin banyak orang medan yang di lalui untuk pendakian gunung sumbing memang begitu berat tetapi di balik itu keindahan alam dan kemegahan puncak sumbing sangatlah sebanding dari beratnya medan di Sumbing.

Photobucket

Photobucket

Terjal dengan kemiringan tanjakan yang hampir 45derajat ketika akan memasuki kawasan puncaknya dengan sedikit saja jalanan landai untuk sekedar menjadi tempat beristirahat dan merenggangkan otot yang mulai mengencang menciptakan sebuah sensasi tersendiri bagi saya ketika mendaki Puncak Sumbing.

Photobucket

Photobucket

Hujan, kabut dan dingin yang menusuk menjadi teman dalam perjalanan pendakian ke puncak sumbing, botol – botol air mineral merupakan harapan di Puncak ketika haus dan lapar tak ada air ta ada istilah mandi gosok gigi yang ada dalam benak pikiran adalah maju dan terus maju serta terus bersama, bahu membahu, yang kuat membantu yang sudah tak berdaya, inilah sebuah team.

Perjalanan ke puncak dengan medan tanpa vegetasi mulai membuat kengerian tersendiri, sangat terjal dan berbahaya, tanah bebatuan dan tebing yang tinggi menjulang, jalan sempit dan licin serta kabut yang semakin menebal di sore hari semakin member aroma mistis bagi pendakian kali ini. Selangkah demi selangkah dengan berpegangan pada batu keras ataupun rating phon di depan sesekali terperosok adalah perjuangan yang begitu keras, teman sudah menunggu di atas “ayoo…. Sedikit lagi”. “Yeah… huh… akhirnya” dan “wow… amazing… inilah puncak” begitu terkagum melihat langit biru dengan latar belakang Gunung Sindoro. Puncak memang tak bersahabat bagi tubuh ini dingin dan sempit menyebabkan keberadaan di puncak tidaklah berlangsung lama.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Bukan tak mudah melakukan perjalanan turun ke tenda, jalur terjal 45derajat adalah tantangan kali ini, tidak bisa sembarangan kaki ini menginjakkan, sekali melakukan kesalahan bisa saja tubuh ini terhempas dan terjun ke jurang, ah saat itu yang ada dalam benak hanyalah rasa takut dan cemas “ngeriiii…”. Warna hitam semakin mendominasi alam kali ini, bukti bahwa sore sudah akan berganti dengan malam. Nyala senter dengan bantuan dari sinar bulan purnama menjadi penerangan kali ini, kram dan terkilir menjadi sesuatu yang mengerikan, ada yang terperosok ada yang terguling sesekali ada yang berhenti karena kram.

Badai dari angin gunung adalah sebuah momok yang mengerikan ketika tertidur di tenda, suara jeritan angin itu seperti ombak yang mengamuk, tenda yang selalu bergoyang lampu senter yang selalu bergoyang menciptakan sebuah pertanyaan “bisakah tenda ini bertahan?”

Photobucket

Pagi yang cerah nan dingin menyambut detik – detik terakhir sebelum meninggalkan sumbing… see you SUMBING…

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket