Dingin menusuk kulit dengan kisaran suhu antara 6o sampai dengan 10o membuat tubuh ini menggigil walaupun sudah berlapiskan jaket tebal di tubuh ini. Hamparan putih kabut yang menyambut pagi dingin kala itu membuat tubuh ini semakin mengigil, namun itu bukanlah sebuah penderitaan melainkan itulah sensasi yang kami rasakan. Menanti sunrise di pananjakan Bromo sejak subuh hingga mentari mulai menunjukkan jati dirinya adalah tujuan datang ke sini. Sungguh terpesona akan alam Indonesia, hamparan biru dan deretan gunung (batok, bromo, semeru) berdiri gagah di lembah lautan pasir Bromo.
Kemegahan ini semakin bertambah takkala melihat Semeru memuntahkan warna putih yang keluar dari ujungnya. Petani, pengunjung ataupun penduduk sekitar yang sesekali mengepalkan tangannya dan mengeluarkan asap dari mulut mereka menambah suasana menjadi lebih hidup dengan suasana kesejukan alam Bromo yang begitu dingin.
Tak terdengar suara bising perkotaan yang ada hanyalah suara alam dan raungan hard top yang selalu melintasi kawasan ini. Sajian makanan yang murah dan nikmat adalah santapan kala itu, mulut meringis ketika guyuran air melewati kepala kita ataupun tubuh kita.
Tapi.... itulah Bromo... selalu membuat jiwa raga ini ingin selalu kembali ke sana...
Sumbing, merupakan salah satu Gunung Berapi yang masih aktif di Pulau Jawa, Gunung Sumbing berlokasi di kawasan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.371 m dari permukaan air laut.
Bagi beberapa atau mungkin banyak orang medan yang di lalui untuk pendakian gunung sumbing memang begitu berat tetapi di balik itu keindahan alam dan kemegahan puncak sumbing sangatlah sebanding dari beratnya medan di Sumbing.
Terjal dengan kemiringan tanjakan yang hampir 45derajat ketika akan memasuki kawasan puncaknya dengan sedikit saja jalanan landai untuk sekedarmenjadi tempat beristirahat dan merenggangkan otot yang mulai mengencang menciptakan sebuah sensasi tersendiri bagi saya ketika mendaki Puncak Sumbing.
Hujan, kabut dan dingin yang menusuk menjadi teman dalam perjalanan pendakian ke puncak sumbing, botol – botol air mineral merupakan harapan di Puncak ketika haus dan lapar tak ada air ta ada istilah mandi gosok gigi yang ada dalam benak pikiran adalah maju dan terus maju serta terus bersama, bahu membahu, yang kuat membantu yang sudah tak berdaya, inilah sebuah team.
Perjalanan ke puncak dengan medan tanpa vegetasi mulai membuat kengerian tersendiri, sangat terjal dan berbahaya, tanah bebatuan dan tebing yang tinggi menjulang, jalan sempit dan licin serta kabut yang semakin menebal di sore hari semakin member aroma mistis bagi pendakian kali ini. Selangkah demi selangkah dengan berpegangan pada batu keras ataupun rating phon di depan sesekali terperosok adalah perjuangan yang begitu keras, teman sudah menunggu di atas “ayoo…. Sedikit lagi”. “Yeah… huh… akhirnya” dan “wow… amazing… inilah puncak” begitu terkagum melihat langit biru dengan latar belakang Gunung Sindoro. Puncak memang tak bersahabat bagi tubuh ini dingin dan sempit menyebabkan keberadaan di puncak tidaklah berlangsung lama.
Bukan tak mudah melakukan perjalanan turun ke tenda, jalur terjal 45derajat adalah tantangan kali ini, tidak bisa sembarangan kaki ini menginjakkan, sekali melakukan kesalahan bisa saja tubuh ini terhempas dan terjun ke jurang, ah saat itu yang ada dalam benak hanyalah rasa takut dan cemas “ngeriiii…”. Warna hitam semakin mendominasi alam kali ini, bukti bahwa sore sudah akan berganti dengan malam. Nyala senter dengan bantuan dari sinar bulan purnama menjadi penerangan kali ini, kram dan terkilir menjadi sesuatu yang mengerikan, ada yang terperosok ada yang terguling sesekali ada yang berhenti karena kram.
Badai dari angin gunung adalah sebuah momok yang mengerikan ketika tertidur di tenda, suara jeritan angin itu seperti ombak yang mengamuk, tenda yang selalu bergoyang lampu senter yang selalu bergoyang menciptakan sebuah pertanyaan “bisakah tenda ini bertahan?”
Pagi yang cerah nan dingin menyambut detik – detik terakhir sebelum meninggalkan sumbing… see you SUMBING…
Berjalan menyusuri gelapnya kawasan ciwidey di kala subuh Kesunyian malam menyambut dengan riangnya Dingin begitu menyengat dan terasa sampai ke dalam tulang rusuk hingga persendian. Argzzz... dinginnya!!! cuma itulah kata - kata yang keluar ketika keluar dari mobil. Yang ada hanyalah tetesan embun dari semua benda di sekitar kita
Berlapiskan Jaket tipis semakin membuat tubuh terasa sangat tertusuk oleh dinginnya ciwidey Tapi, semua itu berubah ketika matahari mulai bangun dari tidurnya Sedikit demi sedikit cahanya menciptakan warna kekuningan hingga menembus ranting - ranting pepohonan Awwww... ini dia yang membuat kita terasa sangat dingin!!! kabut putih tebal mulai terlihat sangat jelas dengan hamparan hijau yang sangat luas.... Suara alam lambat laun berubah menjadi suara hiruk pikuk kendaraan dan canda tawa orang - orang yang akan beraktifitas
Berjalan ke sudut yang lain, kita di suguhi oleh sebuah pemandangan yang menakjubkan, sebuah Danau yang mempunyai mitos cinta yang cukup kuat, Situpatengan!! begitulah orang menamainya. Sungguh terkagum aku ketika menyaksikan hamparan kabut dan kapal - kapal yang masih lengang ditemani oleh panasnya gorengan yang di jajakan oleh penduduk sekitar. Sepi dan damai, itulah ungkapan yang bisa saya gambarkan ketika tiba di Danau Ini...